VocaWorld, chapter 67 - Seseorang Yang Memegang Tanganku

Suatu pagi di kediaman Gakupo. Kamui sedang duduk di depan dojo seperti biasa.
"Gakupo!" panggil Kaito dari arah rumah.
Terlihat Kaito berjalan menghampiri Kamui.
"Kenapa sih kau tidak menjawabku, Gakupo?" tanya Kaito.
"Maaf, Kaito-dono. Saat ini saya sedang bermeditasi." sahut Kamui.
"Oohh.. kalau begitu aku mau pergi keluar dulu sebentar. Sarapannya sudah jadi tuh, ada diatas meja." ujar Kaito.
Kaito kemudian berjalan menjauhi Kamui.
"Ya, terima kasih Kaito-dono." sahut Kamui.
"Oh ya, Kaito-dono.." ucap Kamui.
Kaito pun menoleh lagi ke arah Kamui.
"Kalau anda pergi ke rumahnya Meiko-dono, tolong jaga Miku-dono." sambung Kamui.
"Kenapa memangnya?" tanya Kaito.
"Karena The White Light-dono mengatakan kalau dia masih mengincar Miku-dono." jawab Kamui.
Kaito sedikit terkejut mendengarnya.
"Begitu kah. Baiklah, aku akan berusaha melindungi Hatsune." ujar Kaito yg lalu melanjutkan langkahnya.
Di kediaman Megurine, di ruang baca Luka sedang membaca buku berjudul, 'Diary of D'.
"Hari ini, Dr. Shiro dan Dr. Kuro akan mempresentasikan sebuah alat. Mereka mengundang kami dari keluarga Meguzan, dan beberapa keluarga terpandang lainnya di kota ini untuk melihat presentasi mereka." baca Luka dalam buku itu.
"Hmm.. aku tidak mengerti, beberapa kali nama Dr. Shiro dan Dr. Kuro disebut dalam diary ini, namun.. tidak satupun yg mencantumkan nama lengkap dan identitas mereka. Namun mereka lah yg membuat perubahan di kota ini. Ini aneh.." gumam Luka dalam hati mencoba berpikir.
Namun Luka tidak menemukan apapun, karena ia tak punya petunjuk apapun. Akhirnya Luka memutuskan untuk membaca buku itu lagi. Berharap ada petunjuk di bagian selanjutnya.
"Akhirnya kami para keluarga terpandang berkumpul di lab Prof. Haiden. Ya, mereka numpang presentasi disana karena lab mereka kecil. Kemudian mereka mulai memperkenalkan sebuah alat berbentuk helm. Dan mereka menamainya, 'Mindy'. Mereka mengatakan kalau fungsi Mindy adalah.." baca Luka lagi dalam buku itu.
Luka pun tampak terkejut melihat penjelasan dalam buku itu.
"Apa ini.. nyata? Jadi mereka.." ujar Luka dengan menyipitkan matanya seakan tak percaya.

Di rumah Miku, Rin dan Len terlihat sedang bersiap-siap berangkat keluar.
"Miku-nee ayo cepetan! Nanti kita tinggal lho!" ujar Len tampak bersemangat sekali.
"Len, kenapa sih aku juga mesti ikut perburuan kalian? Aku sama sekali tidak tertarik dengan kumbang." gerutu Rin.
"Nanti kalau tidak diajak, takutnya kamu nangis." sahut Len.
Rin pun menginjak kaki Len hingga Len menjerit kesakitan. Len melompat-lompat sambil memegangi kakinya yg sakit.
"Rin-chan! Len-chan! Ayo kita berangkat!" ucap Miku yg terlihat membawa jaring besar di punggungnya, lalu kotak es besar, dan sebuah pancingan.
Rin dan Len menatap Miku dengan wajah shock.
"Miku-nee, kita ini mau nangkap kumbang. Bukan ikan!" bentak Len.
"Hmm.. memang cara nangkapnya beda ya?" ucap Miku sambil menggaruk dan memiringkan kepalanya.
"Tentu saja beda!" bentak Len lagi.
"Lagipula, Miku-neechan dapat darimana jaring ikan itu? Kita kan tidak punya jaring ikan." tanya Rin.
"Oh ini, sebenarnya sewaktu aku pergi ke pasar ikan dekat pantai sewaktu di suruh Meiko-san beli ikan murah, aku nemu ini. Kukira tadinya ini stocking, jadi aku beli saja. Hehehe.." jawab Miku lalu tertawa bodoh.
"Ya ampun.. coba berpikir lah sedikit, Miku-neechan. Mana ada yg jual stocking di pasar ikan!!!" ujar Rin sambil menepuk jidat lalu berteriak pada Miku.
"Hehehe.." Miku hanya bisa tertawa bodoh.
"Daripada stress, mending kita langsung berangkat aja deh." ajak Len.
"Yeah! Ayo kita berangkat!" ucap Miku dengan semangat.
"Simpan dulu alat mancingnya!!!" bentak Len dan Rin.
Miku, Rin dan Len pun akhirnya berangkat menuju ke arah bukit di selatan Voca Town.
"Hatsune!" panggil Kaito dari belakang.
"Kaito-senpai?!" ucap Miku yg terkejut melihat kedatangan Kaito.
"Kalian mau kemana nih?" tanya Kaito.
"Kami mau nangkap kumbang." jawab Miku.
"Kalau begitu, bolehkah aku ikut?" tanya Kaito lagi.
Miku pun kaget, jantungnya berdegup kencang.
"Ini.. ini kesempatan!" teriak Miku dengan bahagia dalam hatinya, tapi ekspresi wajahnya tidak berubah.
"Kaito-nii tidak boleh ikut!" sahut Len.
"Lho, kenapa?" ucap Kaito merasa bingung.
"Len-chan.. ada apa denganmu?!! Mau di banting ya!!" ucap Miku dengan geram dalam hatinya, namun tetap tak merubah ekspresinya.
"Pokoknya tidak boleh, nanti yg ada Kaito-nii ngambil semua kumbangnya dan aku tidak kebagian." jawab Len.
"Hahaha.. tenang saja, aku tidak tertarik pada kumbangnya." balas Kaito sambil tersenyum.
"Tidak tertarik pada kumbangnya? Lalu kenapa Kaito-senpai begitu ingin ikut? Jangan-jangan.." pikir Miku sekarang wajahnya jadi memerah.
"Beneran?" tanya Len.
"Ya, bener dah." jawab Kaito.
"Baiklah Kaito-nii boleh ikut. Tapi jangan ganggu ya.." terima Len.
"Yeah!" ucap Miku melompat secara reflek karena senang.
"Miku-nee kenapa?" tanya Len.
Kaito dan Rin pun tampak bingung memandang Miku.
"Ti-tidak ada apa-apa kok. Hehehe.." jawab Miku dengan malu.
"Kalau begitu ayo kita lanjutkan!" teriak Len.
"Yeah!" sahut Miku dan Kaito bersamaan.
"Ada apa dengan mereka bertiga? Kenapa mereka semangat sekali?" ucap Rin sambil tersenyum sinis.

Mereka pun akhirnya sampai di hutan yg ada dibukit itu. Len mulai berkeliling mencari kumbang, sementara Rin mengikuti dari belakang Len dengan wajah malas.
"Ngomong-ngomong Hatsune kenapa ikut dengan mereka mencari kumbang? Hatsune ingin melihara kumbang?" tanya Kaito yg berjalan di depan Miku.
"Ti-ti-tidak kok." jawab Miku dengan gugup.
"Aku tak mungkin jawab kalau aku memang ingin nangkap kumbang juga. Nanti Kaito-senpai ngira aku masih kekanak-kanakan." ujar Miku dalam hatinya.
"Lalu kenapa?" tanya Kaito lagi.
"Sebenarnya aku hanya menemani mereka saja. Berbahaya kan, membiarkan anak kecil berkeliaran dihutan sendirian?" jelas Miku.
"Oohh.. begitu ya. Hatsune itu kakak yg baik ya." ujar Kaito.
"Iya dong." ucap Miku dengan bangga.
"Hahaha.. entah kenapa sikap bangganya itu hampir mirip dengan seseorang." ucap Kaito dalam hatinya sambil senyum aneh.
Lalu mereka pun naik memanjat sebuah tebing yg tak terlalu tinggi juga tak terlalu curam. Mungkin tingginya hanya 1 meter lebih. Len dan Rin mampu memanjat dengan mudah. Kaito dan Miku pun menyusul dari belakang. Namun saat Miku menaiki tebing itu, dia terpeleset.
"Hati-hati, Hatsune!" ucap Kaito memegang tangan Miku sehingga Miku tidak jadi jatuh.
Miku pun merasa terkejut karena hampir terpeleset dan meluncur ke bawah lagi. Dan kemudian wajahnya pun memerah saat sadar ternyata Kaito memegang tangannya.
"Kaito-senpai memegang tanganku?" ucap Miku merasa senang sekaligus malu dalam hatinya, dan wajahnya sedikit memerah.
Kaito pun menarik lengan Miku, dan Miku akhirnya bisa sampai diatas dengab selamat.
"Kau tidak apa-apa, Hatsune?" tanya Kaito.
Miku pun mengangguk dengan malu-malu.
"Hei, kalian sedang apa disana? Ayo kesini! Nanti kita tinggalin lho!" panggil Len.
"Ya, kami akan segera kesana!" sahut Kaito.
"Ayo, Hatsune." ajak Kaito.
Miku pun berjalan di belakang Kaito lagi."Perasaan apa ini?" ucap Miku dalam hati sambil melihat ke arah tangan kanannya yg dipegang oleh Kaito tadi.
"Rasanya, aku pernah mengalami kejadian serupa sebelumnya. Sewaktu aku terpeleset dan hampir jatuh, ada seorang laki-laki memegang tanganku dan menyelamatkanku. Tapi.. aku tak bisa mengingat wajahnya. Masih terasa samar dalam benakku." ujar Miku dalam hati merasa bingung sambil mengingat sebuah gambaran samar anak laki-laki yg memegang tangannya.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】