VocaWorld, chapter 77 - Lembayung Tepi Pantai (Pelangi Setelah Hujan Di Sore Hari)

Luka berdiri di pinggir pantai. Menatap ke arah laut dengan penuh kesedihan.
"Megurine-senpai kenapa? Sejak pagi dia berdiri disana terus?" tanya Miku nampak heran sambil duduk dibawah payung.
"Aku tidak tahu. Kelihatannya ada yg sedang Luka-oneesama pikirkan." jawab Gumi yg duduk tepat disebelahnya.
"Saat malam juga, dia hanya berdiri melihat ke arah jendela. Walau aku mendekatinya dan menyapanya, dia tak mau jawab." ujar Meiko yg berdiri di sebelah Kaito.
"Apa ada yg terjadi saat dia menghilang waktu itu?" kata Kaito.
"Nampaknya saya harus turun tangan.." ucap Kamui sambil membuka kimono berlengan pendeknya.
"Apa maksudnya turun tangan sambil buka baju seperti itu?" komentar Kaito sambil tersenyum dan menatap aneh pada Kamui.
"Luka-tan.. kalau anda punya masalah.. Katakan saja pada saya.." kata Kamui berdiri di belakang Luka sambil membuat pose keren dan menyisir rambut panjangnya dengan tangan dan di sekitarnya terlihat kilauan-kilauan.
"Dan kalau anda ingin menangis.. menangis lah sepuas anda di dada saya.." sambung Kamui sambil membuat pose meletakan kedua telapak tangannya di belakang kepala menunjukkan dadanya yg kekar sambil tetap ada kilauan-kilauan disekitarnya.
Namun Luka tidak memperhatikannya sama sekali. Setelah 30 menit berlalu nampak Kamui masih mempertahankan posenya. Tampak kulit Kamui mulai terbakar matahari.
"Rin, apa kamu mencium sesuatu yg terbakar?" tanya Len yg nampak sedang membuat istana pasir bersama Rin.
"Iya. Seperti daging gosong. Tapi disini tidak ada yg sedang bakar apapun." jawab Rin sambil tengok kanan kiri mencari sumber bau.
Luka saat itu sedang memakai jaketnya dan menutupkan tudung jaketnya, sehingga kulitnya tidak terbakar matahari meskipun berdiri lama disana.
"Gaku-Gaku! Mau sampai kapan kamu disitu?" tanya Gumi.
"Sampai Luka-tan mau menangis di dada saya." jawab Kamui dengan nada lemah dan suaranya seperti kakek tua.
"Ya ampun.." ujar Gumi sambil nepuk jidat.
"Kaito.. tolong oleskan lagi krim tabir surya nya.." pinta Meiko tampak rebahan diatas kain hendak berjemur lagi.
"Aku lagi?" ucap Kaito sambil menunjuk wajahnya sendiri.
"Kenapa memangnya?" tanya Meiko.
"Sudah cukup kemarin saja aku hampir serangan jantung karena mengoleskannya dipunggungmu, sekarang aku kapok melakukannya lagi." jawab Kaito.
"Kalau kamu memang tak mau mengoleskannya dipunggungku, aku tidak keberatan kok kamu mengoleskannya dibagian depan." balas Meiko sambil bangkit dan memiringkan tubuhnya melihat ke arah Kaito, nampak seperti pose seksi model bikini.
Melihat pose itu, jantung Kaito nampak tidak kuat. Detak jantungnya meningkat, tekanan darah dikepalanya pun semakin meningkat membuat wajahnya merah. Apalagi pas melihat ke arah belahan dada dan paha Meiko, membuat Kaito langsung mimisan. Hidungnya menyemburkan darah.
"Meiko, jangan membuatku berpikiran yg aneh-aneh!" bentak Kaito sambil menutup hidungnya dengan tangan menahan semburan darahnya.
"Oohh.. jadi kamu membayangkan hal yg seperti itu saat melihatku. Kaito ecchi!" ucap Meiko dengan nada menggoda Kaito.
Dibelakang Kaito nampak Miku terlihat sangak kesal.
"Aaaaa...!!! Meiko-san curang! Awas saja kalau sampai punyaku sudah lebih besar..!!" bentak Miku dalam hatinya dengan wajah geram.
"Jadi, kamu mau mengoleskannya atau tidak?" tanya Meiko.
"Takkan kubiarkan!" teriak Miku melompat ke atas Meiko.
"Kya! Miku-chan apa yg kamu lakukan?" ucap Meiko saat tubuhnya tertindih Miku.
Saat itu tubuh mereka berhadapan.
"Kaito-senpai, kalau tak mau ama Meiko-san, ama aku aja. Oleskan krim tabir surya itu ke punggungku ya.." pinta Miku saat itu sambil menekan Meiko.
"Tu-tunggu.. ini.." ucap Kaito nampak semakin tidak kuat.
Kaito melihat tubuh mereka berhimpitan dengan Miku yg menindih Meiko. Nampak dada mereka juga saling berhimpit.
"Yuri Effect Overflow..!!!" teriak Kaito sambil mimisan hingga jatuh ke belakang kemudian tak sadarkan diri.
"Kaito-senpai?", "Kaito!" ucap Miku dan Meiko bersamaan melihat Kaito terkapar pingsan.
"Sepertinya seseorang butuh ambulan disini." komentar Gumi melihat ka arah kirinya ke arah Kaito, Miku, dan Meiko.

Luka masih tertunduk lesu dipinggir pantai. Tatapannya masih sama dengan yg sebelumnya.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa Ray-kun memintaku untuk membencinya? Aku tak bisa melakukannya. Aku tak bisa!" ucap Luka dalam hatinya.
Kemudian dia mengingat saat pertama kali berjumpa dengan Ray di lorong sekolah. Dia pun ingat saat Ray selalu ada untuknya. Menunjukkan hal-hal baru padanya. Membantunya mengalahkan ratusan minor. Selalu memberikan semangat dan menghiburnya. Dan Luka juga mengingat dengan jelas saat ia tertawa bersama Ray kemarin.
"Aku tak mungkin membenci orang yg kusukai!!!" teriak Luka dengan suara kencang.
Hal itu mengagetkan Gumi, Miku dan Meiko. Sementara Kaito dan Kamui tidak mengetahuinya karena mereka tak sadarkan diri. Kaito pingsan karena terkejut melihat Miku dan Meiko, sementara Kamui juga nampak terbaring dipasir karena terlalu lama tersengat panas matahari.
"Luka-oneesama?!" ucap Gumi bangkit dari duduknya.
"Aku tak mungkin membunuhmu, Ray-kun.." sambung Luka tampak menangis.
Gumi pun hendak berlari ke arah Luka. Namun ada hal yg mengejutakannya. Ada seperti tetesan air berwarna hitam muncul dari langit dan ukurannya besar sekali.
"A-apa itu?!" kata Gumi kaget melihatnya.
"Gumi-chan, cepat ambil earophoid di dalam tas! Itu pasti major." suruh Meiko.
"Baik!" sahut Gumi segera berlari sekuat tenaga ke arah villa.
Tetesan air itu pun jatuh di depan Luka menciptakan gempa yg lumayan kuat. Sekarang bentuknya bulat seperti bola. Kemudian langsung berubah menjadi bentuk darksider raksasa atau major.
"Disaat seperti ini? Kenapa? Apa aku akan mati?" ucap Luka saat melihat ke arah major itu.
Major itu terlihat hendak meraih Luka dengan tangannya.
"Jangan sentuh Luka-oneesama!!!" teriak Gumi yg nampak sudah berubah lalu melompat ke arah major.
"Rabbit's Kick!" teriak Gumi menendangkan kedua kakinya sambil berbalik ke belakang.
Tendangan itu membuat major mundur kebelakang beberapa langkah dan hampir jatuh. Gumi mendarat tak jauh dari depan Luka.
"Luka-oneesama ambil ini!" suruh Gumi melemparkan earophoid milik Luka tepat ke arah Luka.
Luka pun menangkapnya.
"Hiaaaa...!" teriak Gumi mulai berlari ke arah major lagi dengan cepat sehingga mampu menapak diatas air.
Gumi bergerak dengan cepat memberikan perlawanan pada major itu. Nampaknya di sudah mengaktifkan dance acceleration-nya sebelum ini.
"Kenapa ada major muncul disini? Apa ini salahku? Aku membahayakan teman-temanku hanya karena kesedihanku? Tidak.. tidak mungkin.." ucap Luka dalam hatinya.
"Megurine-san.." panggil Meiko dari samping Luka.
Luka tidak menjawab.
"Megurine-san.." panggil Meiko lagi.
Luka masih tidak menjawab dan terdiam.
"Megurine-san!" bentak Meiko.
Luka pun tersadar dan akhirnya menoleh ke arah Meiko.
"Jangan biarkan kesedihan membuatmu tak bisa berpikir. Gumi-chan butuh bantuanmu saat ini." ujar Meiko.
"Ta-tapi.." ucap Luka nampak masih larut dalam kesedihan.
"Sadarlah Megurine-san! Saat ini Gumi-chan sedang bertarung melawan major. Dia butuh bantuanmu! Diantara kami hanya kamulah yg paling cerdas. Kami juga tidak membawa earophoid kami. Hanya kamulah yg bisa memberikan arahan dan membantunya dengan instrument-mu!" jelas Meiko dengan suara keras berusaha menyadarkan Luka.
"Meiko-chan benar, aku harus membantu Gumi-chan. Karena.. aku seorang ratu!" ucap Luka dalam hati lalu memakai earophoid-nya.
"Start up! Vocaloid system: on! Power: 100%! Go on!" teriak Luka melakukan perubahan.
"Gumi-chan coba buat dia kemari!" suruh Luka berteriak pada Gumi.
"Baik!" sahut Gumi.
"Meiko-chan, mundurlah sedikit." pinta Luka.
Meiko pun menyadari Luka kembali menjadi dirinya yg dulu. Meiko tersenyum lalu menuruti permintaannya.
"Rabbit's Kick!" teriak Gumi melakukan tendangan dua kaki lagi sambil berbalik ke belakang.
Major itu pun mundur kebelakang akibat tendangan Gumi tepat ke arah Luka, karena saat itu major itu membelakanginya.
"Instrument: Rainbow Piano!" ucap Luka mengeluarkan instrument miliknya.
Kemudian Luka berlari menyambut major itu. Dia pun menekan 2 nada di piano itu mengeluarkan 2 cahaya beda warna dan melesat ke arah major mendahuluinya. Satu berbelok ke arah depan satu lagi lurus kebelakang major tersebut. Keduanya kemudian bertubrukkan pada tempat yg sama menciptakan ledakan cahaya di perut major itu hingga terciptalah lubang disana. Luka melompat ke lubang itu.
"Tunggu? Apa yg Luka-oneesama lakukan ke lubang itu?" ucap Gumi dalam hati bertanya-tanya.
"Pixie Party!" ucap Luka lalu memainkan piano dengan melodi cepat.
Kemudian muncul lah ratusan mungkin hingga ribuan cahaya berwarna-warni seperti pelangi. Ribuan cahaya itu kemudian membentuk seperti bola yg menyelimuti Luka dan semakin meluas. Hal itu membuat lubang major itu melebar. Cahaya itu semakin lama semakin berputar cepat dan semakin meluas hingga akhirnya seluruh tubuh major itu habis. Luka pun berhenti memainkan melodinya dan cahaya itu pun menghilang. Luka mendarat dengan indah di atas air dangkar pesisir pantai. Luka menghilangkan lagi instrument nya lalu berjalan ke arah Meiko.
"Selesai." ucap Luka.
Dibelakangnya Gumi nampak berlari menyusul Luka.
"Kelihatannya kamu sudah tenang kembali, Megurine-san." ucap Meiko.
"Kamu benar, Meiko-chan. Aku memang tak boleh larut dalam kesedihan. Aku tak boleh membahayakan temanku hanya karena masalah pribadi. Aku harus menjaga pikiranku tetap bersih. Karena aku seorang ratu." ucap Luka menghapus air matanya lalu tersenyum.
"Itu baru Luka-oneesama yg kukenal." kata Gumi memotong dari belakang Luka.
Gumi lalu memeluk Luka.
"Ya, aku harus kuat. Aku ini ratu yg harus memimpin mereka." ujar Luka dalam hati sambil tersenyum mengusap kepala Gumi.

Sore harinya, terlihat Miku, Luka, dan yg lainnya sedang naik kereta. Mereka pulang menuju ke Voca Town.
"Tapi aku masih tak habis pikir kenapa Ray-kun menyuruhku untuk membencinya?" gumam Luka dalam hati saat kereta memasuki terowongan.
"Meiko-san, minta p*cky nya dong." pinta Miku pada Meiko yg duduk di hadapannya.
"Iya, nih.." sahut Meiko menyodorkan kotak makanan berbentuk stick yg ujungnya berlapis coklat itu.
Miku pun mengambil empat batang.
"Telima kasih.." ucap Miku sambil memakan salah satu batang p*cky yg diambilnya.
"Ah, kenapa Miku-nee ngambilnya banyak banget! Kalau gitu aku juga!" protes Len yg kemudian mengambil 2 batang lagi setelah sebelumnya nampak ia sudah mengambil 2 batang.
"Aku juga.." sahut Rin mengambil tambahan 2 batang juga.
"Kenapa aku hanya kebagian satu.." ucap Meiko dalam hati melihat hanya tersisa satu batang di kotak itu dengan wajah jengkel.
"Kalian nampak akrab sekali ya. Punya keluarga itu kelihatannya menyenangkan." komentar Luka sambil tersenyum.
Di sebelah bangku mereka, terlihat Gumi nampak agak jengkel. Dia duduk di sebelah Kaito yg menengadah keatas sambil hidungnya disumbat tisu. Sementara di depannya ada kakek-kakek tua nampak habis memancing karena dikepalanya nampak topi dengan berbagai kail pancing tertempel. Dan disebelah kakek itu ada Kamui yg sedari tadi hanya tidur dengan mulut menganga seperti nampak menderita akibat kulitnya yg terbakar matahari.
"Kenapa aku harus duduk dengan orang-orang ini.." gerutu Gumi dalam hati.
Tak lama kemudian kereta keluar dari terowongan. Dan cahaya kembali masuk ke dalam kereta melalui jendela, membuat mata Luka sedikit merasa silau.
"Akhirnya aku pulang.. ke Voca Town yg indah.." ucap Luka melihat ke arah Voca Town.
Saat itu kereta memang lewat di lereng gunung dan pemandangan Voca Town dapat terlihat dari sana.
"Major." kata Luka saat melihat ada sosok hitam diantara gedung-gedung.
"Mana?" ujar Meiko melihat ke arah jendela.
Miku, Rin dan Len pun ikut melihat ke arah jendela kereta itu.
"Tidak ada apa-apa." ujar Meiko.
"Menghilang?" ucap Luka dalam hati.
"Mungkin itu hanya bayangan gedung saja." tambah Len.
"Ya, mungkin aku memang hanya salah lihat saja." ujar Luka tersenyum.
"Ya ampun Megurine-senpai ini.. lain kali lihat yg bener dong.." gerutu Miku.
"Perkataan yg aneh dari orang yg masih mengatakan rakun itu adalah kucing.." komentar Rin dalam hati.
Rin pun mengingat saat masih kecil, Miku membawa seekor binatang ke rumah setelah pulang sekolah.
"Meiko-san, tadi aku menemukan kucing ini di jalan. Apa kita boleh memeliharanya?" tanya Miku kecil sambil menggendong binatang itu.
"Itu rakun!!!" ucap Rin dan Len dalam hati dengan wajah terkejut.
Rin pun tersenyum aneh mengingat hal itu.
Sementara itu diatas gedung berlantai 5 di Voca Town, nampak Dante berdiri dengan malas. Ray pun muncul di sebelahnya dengan gerakan cepat.
"Jika Aniki yg melakukannya, jadi membosankan. Mereka terlalu cepat dikalahkan." ucap Dante pada Ray.
"Mau bagaimana lagi. Aku tak ingin mereka mengganggu kita." sahut Ray.
"Lagipula teknik baru Aniki itu menyeramkan." tambah Dante.
"Dante, menurutmu langit yg seperti apa yg terlihat indah?" tanya Ray sambil melihat ke arah langit senja.
"Tentu saja langit yg cerah kan." jawab Dante.
"Salah. Langit yg indah itu adalah langit setelah hujan. Karena, kamu bisa melihat pelangi saat itu." ujar Ray.
"Ya, Aniki benar juga.." ucap Dante.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】