VocaWorld, chapter 92 - Jebakan Dalam Badai
Pagi hari itu, Voca Town nampak gelap karena saat itu sedang mendung. Luka saat itu sedang membaca buku di tangannya. Buku berjudul 'Diary of F'.
"Hari ini aku sangat senang anakku telah lahir. Anak pertama kami, seorang anak perempuan yg cantik seperti ibunya. Dia memiliki warna rambut ibunya. Kuharap dia juga jadi seorang perempuan cantik seperti ibunya suatu saat nanti. Irine terlihat sangat senang saat itu. Istriku menangis bahagia saat bayi perempuan kami itu kutaruh disampingnya. Suasana ruangan rumah sakit itu menjadi penuh kebahagiaan rasanya." baca Luka dengan senyuman diwajahnya.
Luka yg duduk menghadap ke jendela besar di ruang tengah itu nampak senyum-senyum saat membaca buku itu.
"Megurine-senpai sedang membaca apa?" tanya Miku yg kepalanya nongol dari belakang Luka.
"Mengintip apa yg sedang orang lain itu tidak sopan Miku-chan." ujar Luka sambil menutup buku itu.
"Hehehe.. maaf. Soalnya kulihat nampaknya seru banget." ucap Miku tertawa bodoh sambil memegang bagian belakang kepalanya.
"Bolehkah aku membacanya juga?" pinta Miku.
"Tidak. Soalnya ini adalah barang pribadi keluargaku." tolak Luka sambil berdiri.
"Hmm.. kok gitu sih. Megurine-senpai pelit." gerutu Miku sambil manyun.
"Bukannya begitu. Tapi buku ini adalah diary papaku." jelas Luka sambil menunjukkan judul di sampul buku itu.
"Papa?" ucap Miku.
"Maksudku ayah." ralat Luka dengan sedikit malu.
"Oohh.. begitu ya. Maaf kalau gitu." kata Miku tampak menyesal.
"Ya, tak apa." sahut Luka lalu berjalan pergi.
"Hari ini tumben mendung, apa akan hujan ya?" ucap Miku saat melihat keluar melalui jendela dan masih gelap.
"Aku pulang." ucap Meiko yg nampak baru pulang setelah mengantarkan sarapan pada Kaito dan Kamui.
"Selamat datang, Meiko-chan." ucap Luka yg melihat Meiko.
"Lho, Megurine-san mau kemana?" tanya Meiko yg melihat Luka memakai sepatunya.
"Ada yg harus ku ambil dari rumahku. Aku lupa membawanya." jawab Luka yg berdiri tegak setelah memakai sepatunya.
"Jangan lupa bawa payung, kelihatannya akan hujan. Soalnya awannya udah gelap banget." ujar Meiko mengingatkan.
"Ya, aku sudah membawanya." sahut Luka menunjukkan payung lipatnya yg tampak kecil itu.
"Baguslah. Hati-hati ya.." ucap Meiko.
"Ya, aku pergi dulu.." balas Luka sambil keluar dari rumah lalu menutup pintunya lagi.
Luka berjalan dengan santai lalu melihat ke arah langit yg mendung.
Di rumah danau, Ray melihat langit sudah mendung. Dante tampak baru bangun saat itu, sementara Ray sudah stand by mancing.
"Masih gelap juga? Nampaknya aku bangun terlalu cepat." ucap Dante yg melihat ke sekitar danau sambil ngucek-ngucek matanya.
"Dante, ini sudah hampir jam 8." ujar Ray sambil menoleh ke arah Dante.
"Hah?! Tidak mungkin ah. Ini buktinya masih gelap." kata Dante yg tak percaya.
"Lihatlah ke atas, Dante." suruh Ray yg kembali melihat ke depan.
Dante pun menurutinya dan menengadah ke atas.
"Beneran udah siang ya ternyata." ujar Dante saat melihat mendung itu.
"Cepat bakar ikanmu itu. Segera bersiap-siaplah!" suruh Ray lagi.
Memang di ember dibelakang Ray ada ikannya.
"Ada apa sih Aniki? Kok buru-buru gitu?" tanya Dante.
"Sudah lakukan saja! Ada nada aneh disekitar awan itu. Setelah selesai makan, pergilah ke tengah kota." suruh Ray tanpa menjawab pertanyaan Dante.
"Baiklah.." sahut Dante sambil mengambil ikan itu.
Dante juga mengambil jaket dan earophoidnya dan berjalan menuju ke sisi danau sambil membawa ikan itu.
"Kalau Aniki seserius itu, biasanya memang ini adalah masalah yg serius juga." ujar Dante saat sampai di sisi danau.
"Kuharap aku bisa sarapan sebelum itu terjadi. Aku tak ingin tidak makan ikan hanya diakibatkan hal itu." ujar Ray nampak tak sabar menunggu ikan.
Di kediaman Gakupo, di depan dojo terlihat Kamui sedang bermeditasi. Namun kemudian dia membuka matanya.
"Perasaan aneh apa ini? Rasanya saya merasakan hal yg janggal.." ujar Kamui saat matanya terbuka.
Kamui terlihat mulai berkeringat, dia menyipitkan matanya.
"Tidak salah lagi ini.." sambung Kamui.
Setelah itu Kamui melompat ke depan.
"Saya butuh BAB!!!" teriak Kamui sambil berlari masuk ke dalam rumah.
Luka berjalan menuju rumahnya dan sudah hampir sampai. Hanya terhalang oleh 2 blok lagi.
"Mungkin hanya perasaanku saja. Sepertinya aku mendengar suara aneh dari atas awan. Kalau cuma gemuruh sih mungkin, tapi ini.. lain. Kuharap ini hanya perasaanku saja." ujar Luka sambil berjalan.
Ditengah kota, Gumi sedang berlari pulang karena tidak bisa melakukan rute jauhnya akibat langit sudah mendung.
"Ya ampun sudah mulai gerimis. Aku tidak bawa payung." ujar Gumi saat air mulai menetes dari langit.
"Supermarket?! Yes! Mungkin aku harus beli payung." kata Gumi saat menemukan supermarket.
Gumi lalu masuk ke dalam dan berjalan ke tempat membeli peralatan.
"Eh?! Eeeeehhh??!!! Rame banget?! Apa mereka semua mau beli payung?" ucap Gumi dalam hati sangat terkejut melihat antrian yg begitu panjang.
"Nampaknya aku harus menunggu lama disini. Lagipula diluar sudah hujan." ujar Gumi sambil tersenyum sinis.
Dibelakangnya diluar pintu terlihat memang air sudah berjatuhan dengan derasnya. Sementara itu Luka yg sedang menuju ke rumahnya sudah memakai payungnya dan berjalan dengan santai. Di rumah Miku, Miku menatap dengan tatapan malas ke arah hujan di luar jendela. Sambil meletakan dagunya diatas meja dan memanjangkan tangannya ke depan.
"Hujan.. adem sih, tapi jadi tak bisa keluar." keluh Miku.
Rin dan Len saat itu juga sedang duduk di sisi kiri dan kanan meja itu. Mereka terlihat sedang main ular tangga.
"Ini aku bawakan kue dan teh hangat." ujar Meiko sambil meletakan nampan diatas meja.
"Yeah! Kue!!" sorak Rin dan Len.
Dirumah danau, Ray nampak menyudahi mancingnya.
"Keburu hujan. Aku takkan bisa menyalakan api." ujar Ray sambil menghampiri Dante.
"Kalau Aniki mau, makan saja sisaku." tawar Dante.
"Kamu kira aku kucing dikasih gituan." tolak Ray melihat ke arah ikan bakar yg tinggal tulangnya itu.
"Sudah cepat sana pergi ke tengah kota!" suruh Ray.
"Baik.." sahut Dante yg kemudian berjalan ke arah utara.
Di tengah kota terlihat ada seorang laki-laki berjaket coklat bertudung berdiri diatas gedung pencakar langit.
"Keluarlah kalian! Saat ini kupanggil kalian semua untuk menghancurkan kota ini!!" teriak pemuda itu.
Kemudian muncul banyak sekali tetesan air hitam seukuran manusia. Jumlahnya hampir tak terhitung. Sementara tetesan air yg sangat besar juga muncul.
"Hahaha.. trap is opened." ujar pemuda itu dengan senyum penuh percaya diri.
Kamui keluar dari rumah dan menyeberangi hujan kembali ke dojo.
"Ini aneh, saya merasakan sesuatu yg aneh. Tapi pas mau saya keluarkan tidak keluar-keluar. Apa mungkin itu bukan perasaan ingin BAB?" ujar Kamui yg bingung kemudian melihat ke langit.
Kamui pun terbelalak terkejut melihat banyak tetesan air raksasa berwarna hitam yg hendak menetes kebawah dari awan.
"Ini benar-benar bahaya?!!!" ucap Kamui.
Dante yg melesat ke tengah kota dikejutkan dengan adanya minor dimana-mana.
"Jadi ini kenapa aku disuruh kemari?!" ujar Dante sambil tetap menuju ke tengah kota.
"Apa ini?!!" ucap Luka terkejut dikelilingi oleh minor.
"Menyiapkan pintu kedatangan para darksider di dalam awan hujan, lumayan cerdik juga. Tapi.. aku sudah menduganya.." ujar Ray saat melihat pemandangan tetesan air hitam dilangit.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.