VocaWorld, chapter 93 - Cahaya Terang Di Tengah Badai

Luka dikepung oleh para minor. Luka merasa panik namun tetap berusaha tenang.
"Aku tidak membawa earophoidku. Aku takkan bisa menghadapi mereka sendirian." ujar Luka sambil memperhatikan para minor di sekitarnya.
Di rumah Miku, Miku sekeluarga tidak tahu apa yg terjadi.
"Miku-chan, ayo makan kuenya juga." ucap Meiko sambil menyodorkan kue bolu diatas piring itu.
"Hmm.. nanti saja deh. Aku sedang ingin diet." tolak Miku.
"Miku-nee diet?! Tidak salah tuh?" ujar Len.
"Miku-neechan kan udah kurus banget." sambung Rin.
"Hah, siapa yg kamu bilang kurus?!! Kamu bahkan lebih rata dariku, Rin-chan!" bentak Miku.
"Apa maksud Miku-neechan? Aku kan masih dalam masa pertumbuhan!" jawab Rin.
"Sudah-sudah.. kalian jangan bertengkar." lerai Meiko.
Tiba-tiba asa minor muncul di luar jendela rumah mereka.
"Whoaa?!! Minor!" ucap Miku terkejut saat melihat minor sambil menunjuk ke luar jendela.
Meiko langsung berbalik saat mendengar perkataan Miku. Saat Meiko melihatnya, Meiko langsung melompat, membuka jendela itu dan memukul minor itu hingga menghilang.
"Dia mengalahkan minor tanpa berubah?!!" ucap Miku, Rin dan Len bersamaan karena terkejut melihat Meiko.
"Kalian cepatlah berubah!" suruh Meiko.
Muncul lagi minor dihadapan Meiko dan di samping Meiko. Meiko menyerang mereka dan memukul mereka hingga menghilang. Sementara, Miku, Rin dan Len terlihat sudah berubah.
"Ini Meiko-neesan!" ucap Rin sambil memberikan earophoid Meiko.
"Terima kasih." balas Meiko sambil memakai earophoid itu.
Meiko pun berubah. Rin dan Len yg keluar dari rumah terkejut melihat ada minor dimana-mana.
"Ba-banyak bener?!!" ucap Len terkejut.
"Miku-chan! Cepat ambil earophoid Megurine-san! Dan antarkan segera padanya!" suruh Meiko pada Miku yg masih di dalam.
"Kenapa?" tanya Miku.
"Hah? Jangan banyak tanya lakukan saja! Dia pasti sedang ada di jalan menuju ke rumahnya. Cepat pergi!" suruh Meiko lagi.
"Iya deh." sahut Miku yg terlihat merasa terpaksa.
"Saat ini Megurine-san pasti sedang dikepung oleh minor seperti kami." gumam Meiko.
Terlihat di genteng, di jalan, diatas pagar, banyak sekali minor. Di tengah kota, pemuda berjaket coklat terlihat mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Mulai!" teriak pemuda itu sambil mengayunkan kedua tangannya ke depan.
Para minor pun mulai bergerak sesuai aba-aba orang itu. Di kediaman Gakupo, Kamui terlihat sudah berubah.
"Dance: Samurai Warrior." ucap Kamui lalu berlari ke arah para minor.
Kamui pun mulai menebas minor itu satu persatu dengan mudah. Tanpa disadari, ada salah satu minor yg masuk ke kamar Kaito mendobrak jendela. Tapi kemudian terlihat api biru menyembur keluar. Kaito muncul dan berdiri sambil berpegangan ke bingkai jendela.
"Gakupo! Kenapa ada minor dikamarku?" ujar Kaito yg terlihat sudah mengeluarkan instrument.
"Kaito-dono, jangan memaksakan diri." sahut Kamui dari depan rumah.
"Tenang saja, aku sudah tidak apa-apa." jawab Kaito.
Luka terlihat sedang menghadapi para minor. Dia menggunakan elegant dance miliknya untuk menjatuhkan dan melempar para minor itu. Luka melempar dan membanting minor-minor itu ke tanah hingga menghilang. Dan banyak minor yg sudah dikalahkannya.
"Sudah selesai kah?" ucap Luka yg pakaiannya sudah mulai basah.
Payungnya terlihat tergeletak ditanah.
Di tengah kota, pemuda berjaket coklat itu kembali mengangkat tangannya, kali ini hanya tangan kanannya saja.
"Serangan tahap kedua! Mulai!!" teriak pemuda itu.
Tetesan air raksasa warna hitam pun mulai jatuh ke tanah.
"Hancurkan ratu mereka!" tambah pemuda itu.
Kemudian ada tetesan air raksasa juga jatuh dihadapan Luka. Dan tetesan air itu tidak lain adalah major.
"Major?! Ini berbahaya. Aku harus lari!" ucap Luka dalam hati saat melihat major muncul tepat dihadapannya.
Namun major itu dengan cepat menangkap tubuhnya.
"Tidak!" ucap Luka saat major itu membawanya pergi.
Major itu membawanya ke arah major lain.

Tak lama Miku sampai di tempat Luka tadi berdiri, namun ia hanya menemukan payungnya saja.
"Kemana Megurine-senpai?" tanya Miku sambil mengambil payung yg tergeletak ditanah dalam keadaan terbuka itu.
"Hatsune Miku-san." panggil seseorang dari belakangnya.
Miku pun menoleh, dan ternyata itu adalah Ray yg sudah dalam keadaan berubah.
"Whoa! Shiro Ray! Kamu apakan Megurine-senpai hah!!?" tukas Miku.
"Hah? Aku baru saja sampai disini. Jadi terjadi sesuatu pada Megurine-san? Hmm.." ujar Ray lalu berpikir.
"Kamu membawa earophoid nya kan? Berikan padaku." pinta Ray.
"Hah? Ngapain aku berikan padamu?" tolak Miku.
Ray pun melangkah ke depan Miku dalam sekejap.
"Ini bukan saatnya untuk hal itu, Hatsune-san." ucap Ray sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Miku sambil menatap sayu.
Melihat wajah Ray begitu dekat hati Miku berdebar-debar.
"Kenapa hatiku jadi doki-doki gini? Dia itu musuh, Miku. Musuh!" ujar Miku dalam hatinya menatap mata Ray dengan wajah memerah.
Ray kemudian merebut earophoid yg ada di lengan Miku kemudian melompat ke atap.
"Kamu segera panggil yg lainnya. Aku akan memberikan tanda dimana Megurine-san berada." suruh Ray.
"Kenapa aku harus mengikuti perintahmu, Shiro Ray!?" ujar Miku tampak tak mau menuruti Ray.
"Tolonglah, lakukan saja Hatsune-san." sahut Ray sambil menoleh, namun matanya melihat ke bawah.
Miku terkejut melihat ekspresi Ray itu. Ray pun melompat pergi.
"Ekspresi apa itu?" ucap Miku dengan mata terbelalak.
Ray melompat-lompat dari satu atap rumah ke atap yg lain.
"Untung saja aku pernah menyimpan hal itu saat aku memeluknya dulu. Sehingga aku bisa menggunakannya untuk melacaknya." ujar Ray sambil menyipitkan matanya.
"Beruntung aku menggunakannya sebagai yg ke 9. 9th Wire: on!" sambung Ray lalu menjertikkan jarinya.
Kemudian ada benang listrik yg menyala seperti sumbu terbakar. Ray pun melesat mengikuti benang listrik itu.
"Hahaha.. ini menyenangkan. Melihat kota ini hancur dalam ketakutan." ujar pemuda berjaket coklat itu.
"Devilish Slash!" ucap Dante menyerang pemuda berjaket coklat dengan api hitamnya.
Pemuda berjaket coklat itu melompat dari puncak gedung itu menghindari serangan Dante.
"Rupanya kau biang keladinya." ujar Dante yg mengejar pemuda itu.
"Haha.. tuan Lucifer. Bagaimana anda tahu saya disini?" tanya pemuda itu.
"Aniki menyuruhku ke tengah kota. Pasti dia sudah menduga kau mengendalikan dark sider itu dari tengah kota agak bisa menjangkau area yg luas." jawab Dante.
"Begitu ya." sahut pemuda itu sambil mendarat di jalanan.
"Menyerahlah. Kau takkan mungkin mengalahkanku." suruh Dante.
"Maaf, tapi nampaknya anda harus pergi." ucap pemuda itu sambil menunjuk ke arah supermarket di kiri jauh di pertigaan.
Terlihat Gumi keluar dari supermarket itu.
"Akhirnya kebeli payung juga. Aku bisa pulang." ujar Gumi sambil membuka payungnya.
Namun ada major jatuh tepat dihadapannya. Major itu pun menatap ke arah Gumi, dan hendak menyerang Gumi. Gumi amat terkejut melihat major itu.
"Jangan bercanda!" bentak Dante sambil mengayunkan gitarnya sambil memainkan sebuah nada.
Api hitam pun membelah major itu jadi dua. Major itu mulai menghilang dan terlihatlah Dante yg berdiri di belakang major itu.
"Pangeran kegelapan?" ucap Gumi saat melihatnya.
"Cepatlah berubah, Angin Senja." suruh Dante.
"Hahaha.. selamat tinggal tuan Lucifer!" ucap pemuda itu pada Dante lalu melompat pergi.
"Ada apa ini? Dia kenal denganmu?" tanya Gumi.
"Iya, dia adalah mantan bawahanku dahulu. Ayo segeralah berubah, aku butuh bantuanmu." jawab Dante.
"Apa maksudnya ini? Jadi dia bukan yg selama ini mengendalikan para major." ujar Gumi dalam hati sambil memakai earophoid nya.
Dante dan Gumi pun dihadang oleh 4 major sekaligus. Gumi pun akhirnya berubah.
"Mari kita mulai." ujar Dante.
Sementara itu, Luka sedang dibawa oleh major ke tempat major lain. Disana ada 3 major sedang berkumpul.
"Mereka mau apa?" ucap Luka dalam hati sambil berusaha melepaskan dirinya.
Kemudian tubuh Luka diangkat ke depan. Ketiga major itu mulai membuat sebuh bom shockwave di depan mulutnya.
"Sial mereka hendak menembakku dengan itu. Aku bisa mati!" ucap Luka mulai panik.
Tapi kemudian Luka tersengat listrik, begitu pula lengan major itu. Major itu tampak melepaskan tangannya. Saat para major itu menembakkan bom shockwave itu, ketiga bom shockwave itu pun saling menghantam. Tubuh Luka terjatuh ke bawah.
"Dari ketinggian seperti ini, tanpa earophoid pasti aku akan mati!" ujar Luka sambil memejamkan matanya.
"Hah? Ada apa ini? Rasanya seperti melayang di udara." sambung Luka.
Luka pun membukakan matanya.
Terlihat Ray menggendongnya seperti seorang putri.
"Berpeganganlah yg erat, aku akan menggunakan kecepatan tinggi untuk menghindar dari ledakan." suruh Ray.
"Ray-kun.." ucap Luka.
Ray pun mendarat ditanah, di jalanan dekat gedung hotel dan perkantoran itu.
"Cepatlah, kita tak punya banyak waktu." sambung Ray.
"Baiklah." sahut Luka sambil memeluk Ray.
Ray pun mendekap tubuh Luka dengan erat lalu melompat dengan cepat seoerti menghilang tepat satu detik sebelum bom shockwave itu meledak. Wilayah sekitar situ tampak hancur, begitu pula 3 major itu.
"Nampaknya banyak yg harus kamu perbaiki musim panas ini, my queen." ujar Ray dari kejauhan.
Ray pun menurunkan Luka.
"Maafkan aku karena aku harus menyengatmu. Tapi aku tak punya jalan lain." ujar Ray.
Dia memberikan earophoid milik Luka.
"Ini?" ucap Luka saat melihat earophoidnya.
"Gunakan instrument mu dan serang seluruh minor di seluruh kota ini. Aku akan menangani major nya." suruh Ray lalu melompat pergi.
"Ray-kun.." ucap Luka lagi.
Miku berlari ke arah kediaman Gakupo. Sesekali dia dihadang oleh para minor, namun Miku dapat menanganinya dengan dance rolling girl nya.
"Shiro Ray itu seenaknya menyuruhku. Memangnya dia pikir dia siapa?" gerutu Miku sambil tetap berlari.
Dikediaman Gakupo, terlihat Kamui dan Kaito masih bertarung dengan para minor yg tak ada habisnya.
"Kaito-senpai!" panggil Miku yg baru sampai.
"Hatsune!?" ucap Kaito saat melihat Miku.
"Diatas kalian hati-hati!" teriak Miku sambil menunjuk ke langit diatas mereka.
Kamui dan Kaito pun mendongah ke atas. Dan tiba-tiba jatuhlah major tepat diantara mereka dan langsung mencoba menyerang mereka. Kamui dan Kaito sama-sama terkejut melihat major itu.

Di tempat lain, Luka mengeluarkan instrument nya.
"Pixie Party!" teriak Luka sambil memainkan piano nya.
Keluarlah ratusan cahaya berwarna-warni melesat menyebar ke segala penjuru kota.
"Kerja bagus, my queen." ujar Ray yg melihat cahaya yg nampak seperti pelangi itu dari kejauhan.
Ray pun menjertikkan jarinya membuat bola shockwave di tangannya sebesar bola volley. Kemudian menghantamkannya ke major dihadapannya. Tubuh major itu pun berlubang lalu menghilang. Ray menjertikkan jarinya lagi membuat bola shockwave lagi. Ray menoleh ke arah kiri melihat major yg ada jauh di sebelah kirinya lalu melesat dengan sangat cepat dan menyerang major itu. Major itu kembali berlubang dan menghilang. Ray melompat ke atap salah satu gedung, dan melihat ternyata masiha ada 5 major lagi disekitar situ.
"Ini akan melelahkan." ujar Ray.
Ditempat Gumi dan Dante, Gumi terlihat menyerang minor-minor dengan kecepatan tinggi dan mampu melenyapkan mereka dalam sekejap. Membuat banyak bayangan menghilang dari tempat satu ke tempat lainnya. Lalu Dante yg menyerang major-major di sekitar situ. Terlihat ada 4 major mengepungnya.
"Devilish slash!" teriak Dante menebas major itu dengan api hitamnya.
Major yg di depannya ia tebas dengan tebasan vertikal ke atas sambil melompat, lalu yg ada di kanannya dengan tebasan vertikal kebawah sambil mendarat. Kemudian Dante berbalik dan menebas major yg ada di belakangnya tadi dengan tebasan diagonal ke kanan atas sambil melompat ke arah major yg ada dikirinya saat tadi, tapi saat ini ada di kanannya. Dan Dante melesat melewati major itu, saat dibelakang major itu pun ia berputar sambil menebas diagonal ke kanan atas lalu mendarat ditanah. Tampak ke empat major itu terbelah dan terbakar lalu menghilang.
"Mudah." ucap Dante menegakan tubuhnya lagi.
"Angin Senja, bagaimana denganmu?" tanya Dante pada Gumi.
Gumi pun muncul di belakang Dante.
"Iya, tenang saja. Aku sudah membersihkan yg disekitar sini. Tinggal yg di daerah lain." jawab Gumi.
Kemudian mereka dikejutkan oleh lewatnya banyak sekali cahaya berwarna-warni di sekitar mereka.
"Kelihatannya kita tak perlu lagi mengkhawatirkan yg lainnya." ujar Dante.
"Eh, kamu tahu teknik ini?" tanya Gumi.
"Iya, tentu saja. Aku pernah melihatnya sekali." jawab Dante.
Di kediaman Gakupo terlihat Meiko berdiri dengan tangannya dipenuhi oleh api kemerahan yg menyala walau saat itu sedang hujan.
"Untung saja kau datang disaat yg tepat Meiko." ucap Kaito yg terlihat menghampiri Meiko.
"Ya ampun, 3 orang bodoh berkumpul disatu tempat. Tak ada satupun yg diandalkan. Untung saja aku berpikiran untuk kesini." ujar Meiko menoleh ke arah Kaito.
"Siapa yg kau sebut bodoh? Jangan samakan aku dengan mereka." protes Kaito.
"Iya, kamu memang sedikit agak lebih pintar dari mereka saja." sahut Meiko.
"Sudah 'sedikit', pake 'agak', ditambahin 'aja' juga. Kalau memang tidak niat muji sebaiknya jangan deh. Malah nambah nyesek jadinya." ujar Kaito.
"Terima kasih Meiko-dono, karena telah menolong kami." ucap Kamui.
Saat sebelumnya ketika major hendak menyerang Kaito dan Kamui, mereka berdua sama sekali tidak sempat untuk bereaksi. Namun untung saja Meiko datang dan memukul major itu. Tubuhnya terlihat terselubungi api, sehingga ia mampu menembusnya. Dan major itu pun berlubang, dan menghilang. Kembali ke saat ini. Pemuda berjaket coklat itu terlihat ada di salah satu gedung. Dia berdiri di pagar pembatas atap gedung.
"Pintar sekali. Menggunakan ratu yg memiliki area serangan paling luas untuk melibas seluruh minor. Tapi apa serangan itu bisa berguna melawan yg satu ini?" ucap pemuda itu.
Luka terlihat sudah kelelahan memainkan melodi yg cepat sekian lama dengan pianonya.
"Selesai. Aku sudah mengalahkan semuanya dengan 'pixie' ku." ujar Luka menyebut cahaya berwarna-warni itu dengan pixie.
"Keluarlah kalian, hancurkan ratu itu!!!" teriak pemuda berjaket coklat itu.
Ray saat itu melihat ke awan di selatan.
"Suara itu? Berasal dari tempatnya Megurine-san. Aku harus kesana." ujar Ray yg lalu melompat seperti menghilang.
Jatuhlah 5 tetesan air raksasa berwarna hitam di sekeliling Luka. Dan tetesan air itu mengeras menjadi batu berbentuk sosok raksasa.
"Pix.." ucap Luka hendak menekan pianonya namun terhenti karena melihat ada tangan besar mengayun ke arahnya dari samping kanan.
Luka pun melompat dan menghindar ke arah depan. Tapi kali ini dia sudah tak bisa lari lagi karena saat mendarat, ternyata dia sudah di kelilingi oleh 5 monster batu itu. Kelima major itu pun hendak memukul luka bersama-sama.
"Berakhir sudah.." ujar Luka dengan mata terbelalak dan wajah ketakutan saat menoleh kebelakang dengan badan tertunduk karena baru mendarat.
"Instrument: Thundergod Guitar!" ucap Ray yg muncul tiba-tiba dibelakang Luka yg masih tertunduk ditanah.
Pukulan kelima major batu itu mampu ditahan oleh Ray menggunakan instrument nya.
"Ray-kun?" ucap Luka yg tidak percaya Ray datang menyelamatkannya.
Gitar yg disilangkan di punggungnya dan dipegang oleh dua tangan oleh Ray itu pun terlihat mengeluarkan aliran listrik.
"Instrument?!" ucap Luka dalam hati saat melihatnya.
"Megurine-san, maafkan aku. Aku telah membuat kalian terlibat hal ini." ujar Ray sambil menahan beban dari dorongan pukulan kelima major itu.
Kemudian Ray mendorong dan menghempeskan gitarnya ke atas dengan sekuat tenaga membuat kelima major itu terpundur kebelakang.
"Thunder Dragon's Rage!!!" teriak Ray kemudian memainkan melodi cepat dengan gitarnya.
Kemudian muncul petir berbentuk naga dari tanah dengan ukuran sebesar major batu itu. Ada 5 naga yg muncul dan masing-masing menggigit major batu dan membawanya ke langit kemudian menghantamkannya satu sama lain hingga para major batu itu hancur.
"Makhluk apa itu?" ucap Kamui yg melihat dari kejauhan.
"Bukankah itu mirip naga?" sahut Kaito.
"Mungkin itu tanda dari Shiro Ray." ucap Miku.
"Hah?!!!" teriak Meiko, Kaito dan Kamui terkejut.
"Yg tadi itu. Jangan bilang Aniki menggunakannya saat ini." ujar Dante yg juga terkejut melihat cahaya terang ditengah hujan itu.
"Aniki!!!" teriak Dante.
Ray saat ini terlihat mengangkat gitarnya ke atas dengan tangan kirinya. Kemudian dia pun jatuh diatas lututnya.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】